Katingan
Kuala — Siswa kelas X Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura 1 (ATPH-1) SMK
Negeri 1 Katingan Kuala melaksanakan praktik pembuatan wadi haruan dalam mata pelajaran Muatan Lokal pada
Sabtu (26/9/2026). Kegiatan pembelajaran berbasis kearifan lokal ini dibimbing
langsung oleh guru pengampu mata pelajaran, Devi Astria, S.Pd., di lingkungan
sekolah.
Praktik ini digelar untuk mengenalkan serta
melestarikan warisan kuliner tradisional khas Kalimantan Tengah, sekaligus
mengasah keterampilan pengolahan dan pengawetan pangan lokal bagi para peserta
didik.
Devi Astria, S.Pd., menyampaikan bahwa wadi haruan merupakan olahan
fermentasi ikan gabus (Channa
striata) yang membutuhkan ketelitian tinggi agar menghasilkan cita rasa
yang khas dan tidak membusuk. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memahami
teori pengolahan pangan, tetapi juga mempraktikkan langsung setiap tahapan
pengawetan secara higienis.
Prosedur pembuatan wadi haruan dalam praktik tersebut meliputi beberapa
tahap utama:
1. Pembersihan Bahan:
Ikan haruan dibersihkan dari sisik, kotoran perut, dan insang, lalu dicuci
bersih dan dipotong sesuai ukuran.
2. Penggaraman: Potongan
ikan dilumuri garam dalam jumlah yang terukur, kemudian didiamkan beberapa saat
untuk mengurangi kadar air dan mencegah timbulnya bakteri pembusuk.
3. Pencampuran Samu:
Ikan yang telah digarami dicampur hingga merata dengan samu (beras yang disangrai
hingga kecokelatan lalu ditumbuk halus) sebagai media pembentuk aroma dan
pendukung proses fermentasi.
4. Penyimpanan (Fermentasi): Ikan yang sudah terbalut samu disusun rapat di dalam wadah kedap udara guna memastikan proses fermentasi anaerobik berjalan sempurna.

Rangkaian proses pembuatan yang dilakukan para
siswa pada hari ini menjadi awal dari masa fermentasi selama satu minggu. Jika
proses pembusukan dapat dicegah dan kebersihan wadah terjaga, wadi haruan buatan siswa kelas X
ATPH-1 ini diperkirakan matang dan siap disajikan pada Sabtu, 3 Oktober 2026
mendatang.
Melalui pembelajaran terapan ini, pihak sekolah berharap para siswa mampu memahami potensi ekonomi berbasis pangan lokal, sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang berakar pada budaya daerah sejak dini.
